Asia

Pengalaman Volunteer di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2012

Dari tanggal 2-7 Oktober yang lalu, saya berada di Ubud bekerja sebagai volunteer di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2012. UWRF adalah festival literacy internasional yang diadakan setiap tahun di Ubud dengan mengundang sekitar 150 penulis Indonesia dan internasional. Festival yang diselenggarakan dibawah Yayasan Mudra Swari Saraswati pertama kali diadakan pada tahun 2004 sebagai wahana terapi atas peristiwa Bom Bali di tahun sebelumnya. Di 2012, UWRF sudah mencapai tahun ke- 9 pelaksanaanya.

Keikutsertaan saya dalam kegiatan ini sebenarnya berawal dari keisengan. Dua bulan sebelum pelaksanaan festival, saya dan seorang teman asyik membahas tentang festival Couchsurfing dalam perjalanan kami menuju Anyer. Untuk mencari informasi yang lebih detail, saya kemudian browsing kegiatan volunteer di Bali dari i-pod saya. Namun bukannya mendapat informasi tentang festival Counchsurfing, saya malah tersasar di situs UWRF. Dari situs tersebut, saya pun mengetahui bahwa UWRF sedang membutuhkan volunteer untuk festival yang sedianya akan dilaksanakan di awal Oktober. Tahun sebelumnya, saya memang sudah pernah mendengar soal UWRF dari salah seorang rekan kerja saya. Namun berhubung pelaksanaan UWRF tahun 2011 diselenggarakan pada hari kerja dan saya juga belum dapat mengambil jatah cuti, saya akhirnya mengurungkan niat untuk menghadiri UWRF 2011. Tahun ini, kebetulan pelaksanaanya bertepatan dengan masa break kerja saya sebelum memulai pekerjaan baru. Oleh karenanya, dengan senang hati saya pergunakan jeda ini untuk menghadiri UWRF 2012.

Keuntungan utama yang saya dapat sebagai seorang volunteer adalah saya boleh memasuki main events secara gratis (plus ikutan program Yoga gratis). Biasanya untuk menghadiri main events, peserta diwajibkan membayar (dibedakan antara peserta asing dan domestic). Meski begitu, tidak semua kegiatan di UWRF berbayar. Ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti oleh peserta secara gratis. Selain main event, kegiatan lain yang ditawarkan di UWRF adalah special events, workshop, book launches, children and youth program, dan community and arts programs.

Di main event sendiri ada beberapa sesi diskusi pararel dengan topik yang tidak kalah menarik dan dilaksanakan secara bersamaan. Hal itu malah membingungkan saya untuk memilih hadir di diskusi yang mana. Mendengarkan diskusi dari pembicara di main events membuat saya merasa kembali ke bangku kuliah dulu. Pembahasan yang disajikan sangat mendalam dan mengena. Memang terkadang ada pembicaraan yang lari dari topik pembahasan, namun isu yang dibahas masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Misalnya tentang sustainable tourism di Bali, tentang Western vs Eastern culture, tentang karya-karya Pram, dll.

Secara garis besar, ada banyak hal yang saya dapat selama mengikuti UWRF. Banyak penulis inspiring yang menyumbangkan pemikiran yang mind-enlightening, contohnya saja Butet Manurung (my favorite one), Mira Lesmana, Riri Reza, dan Jose Ramos-Horta (mantan presiden Timor Leste). Bukan cuma ide ide dan gagasan baru yang saya dapat selama mengikuti UWRF, tetapi juga teman baru dan nuansa hidup di Ubud, Bali. Dengan saya bekerja sebagai volunteer di UWRF, saya mendapat kesempatan bertemu dengan volunteer lain dari penjuru Indonesia. Hal yang tidak kalah menyenangkan dari keikutsertaan sebagai volunteer adalah kesempatan berkenalan dengan para penulis internasional yang mengisi acara tersebut. Kebetulan saya di tempatkan di “Green Room” yakni ruangan khusus untuk membantu kebutuhan para penulis, sehingga membuka jalan bagi saya untuk mengobrol dengan para penulis yang kebetulan sedang singgah di ruangan tersebut.

Ironisnya kebanyakan peserta yang datang ke UWRF adalah orang-orang asing di usia matang. Jarang sekali saya melihat anak muda Indonesia asyik mendengarkan diskusi . Bila pun ada yang menghadiri event, mereka biasanya lebih tertarik untuk menghadiri pemutaran film. Umumnya masyarakat Indonesia yang hadir adalah volunteer event tersebut atau murid sekolah internasional yang datang ke UWRF sebagai bagian dari kegiatan ekskursi sekolah. Mungkin hal ini terjadi dikarenakan kurangnya promosi terhadap festival literacy di Indonesia, mungkin pula karena kurangnya kesadaran anak muda tentang pentingnya sastra atau mungkin karena untuk mencapai Bali demi sebuah festival literacy membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mungkin saja ketiga-tiganya. Saya miris sekali dengan kondisi tersebut, sebab sebenarnya kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.

Saya sangat berharap sekolah-sekolah di Indonesia mulai memberi perhatian pada karya sastra Indonesia. Sastra Indonesia sebenarnya kaya sekali, namun entah kenapa tidak diberi banyak perhatian. Pelajaran bahasa Indonesia yang 12 tahun wajib di sekolah pun biasanya hanya membahas tata bahasa yang itu itu saja dan membosankan. Semoga dikedepannya ada reformasi terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat disisipkan pengetahuan sastra yang lebih mendalam sehingga memancing keingintahuan anak muda Indonesia untuk mendalami sastra negeri sendiri dan untuk menghadiri festival literacy.

Suasana di “Green Room”, tempat saya bekerja
Saya dan Butet Manurung, penulis dan aktivitis yang mengisi acara UWRF
Suasana diskusi di salah satu main events
Banner UWRF tepat di depan Istana Puri
Saya dan Tah Riq, salah satu musisi pengisi acara
Band pengisi Closing Party

No Comments Found

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.