Asia

Traveling in Malacca

Hi All! Sepertinya udah lama sekali aku gak update blog ini. I’m so sorry. Belakangan terlalu sibuk dengan aktifitas yang seabrek, kerjaan kerjaan sampinganku, travelingku selama 10 hari ke luar negeri dan yang paling ribet sekarang adalah mengatur segala sesuatunya untuk urusan studi di Australia selama 6 bulan (baru kembali tahun depan). Aku berjanji akan mengurus blogku ini begitu aku fix kan akomodasi di Melbourne. Sekarang ini biarkan aku ingin menceritakan keindahan sebuah kota tua di Negeri Jiran Malaysia!

  • Tanggal 21 Juni 2009 yang lalu, aku dan dua orang temanku berkesempatan mengunjungi Melaka, salah satu kota tua di Malaysia, terletak di tepi Selat Melaka. Secara geografis, kota ini berhadapan dengan provinsi Riau, dan sangat dekat dengan Sumatera Utara. Sangkin dekatnya perjalanan dari Riau ke Melaka bisa ditempuh dengan pesawat selama 30 menit, atau kapal Ferry selama sekitar tiga jam!

  • Sebagai kota tua, Melaka memiliki sejarah panjang, dan masih banyak dijumpai artefak-artefak yang bernilai historis. Melaka pernah dikuasai oleh Portugis, Belanda, dan juga Inggris, sebelum akhirnya merdeka dan menjadi bagian dari negara Malaysia. Selain itu, keindahan sungai Melaka menambah kekhasan kota ini.

  • Begitu tiba di Town Square atau Red Square, kesan antik dengan nuansa merah bata terasa saat melihat bangunan-bangunan peninggalan Portugis dan Belanda. Konon bangunan ini tidak seluruhnya berwarna merah, namun untuk menyesuaikan dengan warna Christ Church, yang terletak di sebelahnya, seluruh bangunan pun dicat merah oleh Belanda. Wah… cerahnya.

  • Masih di sekitaran Red Square, aku disambut dengan becak-becak yang meriah banget karena dihias dengan ornamen berwarna-warni, termaksud bunga plastik. Aku terhenyak ketika lagu-lagu dengan volume kencang diperdengarkan melalui tape recorder di dalam becak.

  • Ups, jangan lupa befoto di depan Christ Church, sebuah geraja peninggalan Belanda, dibangun pada tahun 1753. Untuk kamu ketahui, Christ Church merupakan gereja Protestan yang dibangun oleh penjajah Belanda, dan hingga kini masih dipakai umat Kristen Melaka untuk beribadah.

  • Dari Christ Church aku berjalan menuju bukit tempat reruntuhan Gereja St. Paul. Perjalanan ke atas bukit memang sedikit melelahkan, namun usahaku tidak sia-sia sebab pemandangan dari atas bukit sungguh indah. Konon, St. Francis Xavier pernah dikuburkan di sekitar pemakaman terbuka disana sebelum akhirnya jasadnya dipindahkan ke Goa, India.

  • Tidak hanya peninggalan Eropa yang aku temui di Melaka, ternyata pendatang China di Melaka juga meninggalkan warisan budaya tinggi. Hal itu bisa dilihat dari keberadaan kuil-kuil indah seperti Kuil Cheng Hoon Teng ini.

  • Melaka terkenal pula sebagai kota yang penuh dengan bangunan bersejarah dan berbagai jenis museum. Muzium Maritime yang sempat aku singgahi hanyalah salah satu museum di Melaka. Ada 26 museum tua lainnya peninggalan masa kerajaan dan kolonial.

  • Mau beli oleh-oleh? Singgahlah sejenak disekitar Jonker Walk. Disini kamu bisa dapatkan berbagai jenis asesosir dan barang lainnya, mulai dari gantungan kunci hingga baju dan tas. Disepanjang jalan, juga dijajakan berbagai minuman dan makanan khas. Salah satu yang aku cicipi adalah sate buah coklat (buah-buahan manis yang dicelup dengan coklat). Hm.. yummy..!

  • Sebelum pulang, aku dan teman-teman mencoba bersantai sejenak dengan menikmati keindahan pemandangan di sekitar sungai Melaka dan suara terompet dari musisi jalanan pun semakin menghiasi malam yang indah di Melaka Oh… kota yang sangat artistic.

to be continued with the next journey… 

No Comments Found

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.